banner 468x60

Kapolda Sultra Terkait Kedatangan TKA China itu Bertujuan Untuk Meredam Video Viral Yang Sudah Meresahkan Masyarakat

banner 160x600
banner 468x60

Kabar21News -Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Sultra), Brigjen Pol Merdisyam, secara resmi memberikan klarifikasi terkait pernyataan awal yang ia sampaikan pada Minggu malam (15/3) terkait kedatangan 49 TKA asal China di Bandara Haluoleo, Kendari.

Sebelumnya, pernyataan Merdi memang menimbulkan polemik setelah apa yang ia sampaikan berbeda dengan instansi lain. Polemik itu juga membuat tegar #kapoldasultra dan tegar #copotkapoldasultra trending di Twitter.

Kepada media pada Selasa (17/3), Merdi mengatakan pernyataan awal yang ia sampaikan terkait kedatangan TKA China itu bertujuan untuk meredam video viral yang sudah meresahkan masyarakat.

"Tujuan awal kami pada saat itu adalah bagaimana meredam dulu permasalahan ini, dan segera mengambil langkah-langkah," jelas Merdi.

Merdi mengatakan, pernyataan yang ia sampaikan ke media terkait kedatangan TKA China itu bersumber dari hasil klarifikasi berbagai pihak. Di antaranya pihak Otoritas Bandara Haluoleo Kendari terkait kedatangan TKA tersebut, dan pihak perusahaan PT VDNI tempat tujuan TKA tersebut akan berkerja.

Hasil keterangan yang pihaknya dapat dari Bandara Haluoleo Kendari menjelaskan bahwa memang para TKA China tersebut berangkat dari Bandara di Jakarta.

Merdi bilang, pihaknya mengonfirmasi ke pihak Bandara terkait kedatangan TKA itu karena di Bandara Haluoleo Kendari tak ada kantor Imigrasi di pintu kedatangan.

"Kalau kemudian dalam pendalaman ternyata ditemukan jejak perjalanan mereka adalah dari China, dan bukan dari Jakarta. Nah itulah yang menjelaskan keadaan sebenarnya. Jadi tidak ada maksud atau unsur kebohongan di sini, kami menyampaikan berdasarkan informasi awal (pihak Bandara). Kemudian tujuan kami adalah meredam keresahan masyarakat dengan beredarnya video tersebut," katanya.

Terkait pernyataan bahwa TKA tersebut bertujuan ke PT VDNI, Merdi mengatakan keterangan itu didapat dari hasil konfirmasi secara langsung ke perusahaan.

"Pihak perusahaan menyatakan benar, bahwa kedatangan mereka (49 TKA China) tujuannya ke PT VDNI," katanya.

Selanjutnya, terkait pernyataan awal yang mengatakan bahwa WNA China yang datang bukan TKA baru yang masuk ke PT VDNI, menurut Merdi, pernyataan itu juga merupakan hasil konfirmasi dan penjelasan langsung dari pihak perusahaan PT VDNI.

 

"Saat itu, hasil konfirmasi kami ke pihak perusahaan, perusahaan menjelaskan bahwa sejak adanya penghentian penerbangan dari China ke Indonesia pada Februari 2020, pihak perusahaan menyatakan belum ada TKA baru yang datang dari China, dan TKA yang datang itu merupakan pekerja lama yang masih berkerja," jelasnya.

Terkait pernyataannya yang berbeda dengan instansi lain, Merdi mengatakan bukan sebagai perbedaan. Kata dia, apa yang telah ia sampaikan berdasarkan informasi awal yang ia dapat dari berbagai pihak yang telah di konfirmasi.

"Apa yang kami sampaikan bukan sebagai perbedaan dengan institusi lain, tapi memang berdasarkan sumber informasi awal yang kami dapat," katanya.

Lalu, terkait informasi Polda Sultra menangkap dan menahan seseorang yang merekam video tersebut, Merdi menjelaskan bahwa informasi itu tidak benar.

Yang benar, Polda menerima orang tersebut dari POM AU Lanud Haluoleo, sebab orang tersebut pertama kali diamankan oleh pihak POM AU, kemudian diserahkan kepada Polda.

"Setelah diserahkan, kemudian yang bersangkutan kita periksa untuk mendapat keterangan. Kita ingin mengetahui motifnya, apa benar, karena video yang dia rekam dan viral menimbulkan keresahan," katanya.

"Disitu yang dipermasalahkan adalah, yang bersangkutan menyebut ada Corona datang, Corona datang, nah itulah yang menimbulkan kepanikan dan keresahan. Setelah kami periksa, lalu kami beri pembinaan, berikan juga pemahaman, yang bersangkutan kami lepaskan," pungkasnya

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Kapolda Sultra Terkait Kedatangan TKA China itu Bertujuan Untuk Meredam Video Viral Yang Sudah Meresahkan Masyarakat"