banner 468x60

ISIS Terang-terangan Tidak Mengakui Eksistensi Republik Indonesia, Dianggap Sebagai “negara kafir-zalim-sekuler”

banner 160x600
banner 468x60

 

 

ISIS saat eksekusi warga suriah

Kabar21News, -Wacana pemulangan lebih dari 600 Warga Negara Indonesia (WNI) eks Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) diwacanakan akan dipulangkan ke Tanah Air menjadi polemik, Pasalnya, banyak pihak yang menolak pemulangan WNI eks ISIS tersebut, Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, dirinya menolak pemulangan tersebut.

Sehingga belakangan ini beredar kabar luas di berbagai media kalau sebagian elit pemerintah serta didukung oleh sebagian elit politik dan elit agama, dengan alasan "rasa kemanusiaan", sedang mengusahakan kepulangan sekitar 660 orang (ada sumber yang mengatakan lebih dari 1000) bekas WNI yang terlibat atau tergabung di sejumlah organisasi dan jaringan teroris internasional seperti ISIS dan lainnya.

Meskipun saya menilai ada "unsur kebaikan" dalam inisiasi tersebut, tetapi saya melihat banyak sekali dampak buruk dan mudarat yang akan ditimbulkan bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia ke depan. Oleh karena itu, saya memohon dengan sangat Pemerintah RI untuk memikirkan kembali dan meninjau ulang rencana tersebut.

Ada beberapa alasan fundamental seperti berikut ini kenapa gagasan tersebut perlu ditinjau ulang. Mereka hakikatnya adalah bukan WNI lagi karena melakukan sejumlah tindakan ilegal seperti pembakaran paspor. Pembakaran paspor adalah sebuah deklarasi pemisahan diri sebagai warga negara.

Bukan hanya itu saja. Mereka juga terang-terangan tidak mengakui eksistensi Republik Indonesia karena dianggap sebagai "negara kafir-zalim-sekuler" yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Mereka juga tidak memedulikan nasib masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Mereka juga melakukan tindakan kejahatan yang sangat membahayakan bagi bangsa, negara, dan masyarakat Indonesia dan bahkan kemanusiaan global, yaitu terorisme. Mereka juga jelas-jelas telah menyokong dan terlibat sejumlah organisasi dan jaringan teroris internasional yang melakukan tindakan kriminal, kejam dan brutal pada umat manusia sehingga dikecam oleh berbagai negara dan penduduk di dunia.

Lalu, apa yang diharapkan dari kumpulan "para manusia sampah" seperti itu? Apa untungnya bagi Negara Indonesia? Apa manfaatnya bagi masyarakat Indonesia? Apa kontribusi positifnya bagi bangsa Indonesia?

Daripada memikirkan dan mengurusi barisan "manusia sampah" itu, akan jauh lebih baik dan bermanfaat jika pemerintah memikirkan dan mengurusi kepulangan para korban tindakan intoleran dan kekerasan oleh sekelompok fanatik ekstrimis yang jelas-jelas terusir dari kampung halaman mereka seperti pengikut Syiah, Ahmadiyah, Gafatar dlsb, atau para korban kekerasan komunal di Maluku, Poso dan lainnya.

Daripada memikirkan dan mengurusi para pemandu sorak teroris jahanam, akan jauh lebih baik dan bermanfaat jika pemerintah fokus memikirkan, mengurusi, dan menyelesaikan aneka masalah sosial-politik-ekonomi-pendidikan yang menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan, kebahlulan, kefanatikan, intoleransi, korupsi, dlsb, demi masa depan anak-cucu kita nanti.

Salam,

Sumanto Al Qurtuby, Direktur Nusantara Institute

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "ISIS Terang-terangan Tidak Mengakui Eksistensi Republik Indonesia, Dianggap Sebagai “negara kafir-zalim-sekuler”"