banner 468x60

Kepala Desa Di Aceh Ditangkap Polisi Akibat Ciptakan Padi Varietas Unggul

banner 160x600
banner 468x60

Kabar21News, Aceh -Kepala desa di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, harus berurusan dengan hukum lantaran menjual bibit padi varietas IF 8 (bibit unggul) kepada petani di Kabupaten Aceh Utara.

Kepala desa Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara bernama Munirwan yang juga petani itu kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolda Aceh sejak Selasa (23/7/2019) lalu.

Penahanan Munirwan dinilai aneh, pasalnya kepala desa "Geuchik" di Kabupaten Aceh Utara itu pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Desa karena inovasi yang dilakukannya terkait pengembangan bibit padi IF 8.

Bibit padi IF 8 ini sendiri sebenarnya berawal dari bantuan Pemerintah Aceh yang disalurkan oleh Gubernur Irwandi Yusuf pada tahun 2017 lalu kepada petani di Aceh Utara.

Ketua Komisi II DPR Aceh Nurzahri mempertanyakan ihwal penetapan tersangka terhadap Keuchik Munirwan. Seharusnya kata Nurzahri, pemerintah Aceh justru mensuport inovasi yang telah diciptakan lewat produk unggulan bibit padi IF 8.

"Seharusnya pemerintah Aceh meningkatkan produksi padi unggulan bibit IF 8. Pemerintah harus memfasilitasi produk ini jika tidak ada sertifikasi. Ini untuk mendorong program Aceh 'Troe' yang merupakan program pemerintah Aceh masa pemerintahan Irwandi-Nova untuk mewujudkan Aceh sebagai swasembada pangan. Bukan malah ditangkap polisi," tegasnya.

Penahanan Munirwan berawal dari laporan polisi yang dibuat oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian ke Polda Aceh karena dianggap telah mengkomersilkan bibit padi IF tanpa label sertifikasi.

Dinas Pertanian Aceh menganggap penjualan bibit padi IF 8 justru telah melanggar aturan hukum. "Sementara setiap benih yang diperjualbelikan ke masyarakat wajib hukumnya harus mendapat label atau sertifikasi dari Kementerian Pertanian," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh A. Hanan dilansir Beritakini.co, Kamis (25/7/2019).

Menurutnya, upaya yang dilakukan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh yang melaporkan kasus ini ke Polda sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat untuk mencegah terjadi potensi yang merugikan seperti gagal panen akibat menggunakan benih tersebut.

Sekjen Badan Usaha Milik Desa Aceh Alfadhir menyatakan, Keuchik Munirwan sendiri merupakan Direktur PT. Bumides Nisami, Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) desa Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara. Inovasi yang diciptakan adalah mengembangkan varietas bibit unggul benih padi IF 8 dan benih tersebut dijual kepada kalangan petani di Aceh Utara.

Menurutnya, berkat inovasi ini, Kementerian Desa mengganjar penghargaan sebagai desa dengan inovasi terbaik di tingkat nasional karena telah berhasil mengembangkan produk tani unggulan. Sebagai buktinya, berkat inovasi bibit padi IF 8 hasil panen petani di Aceh Utara dari sebelumnya 7 ton dalam sekali panen, meningkatkan menjadi 11 ton.

Direktur Eksekutif NGO HAM Aceh Zulfikar yang mendampingi tersangka Munirwan dalam kasus bibit IF 8 di Mapolda Aceh di Mapolda Aceh kepada awak media mengatakan, bibit IF 8 bukan barang baru.

"Bibit ini bukan barang baru, justru pemerintah Aceh sendiri yang memberikan pada tahun 2016. Tapi kenapa justru sekarang dipermasalahkan," katanya.

"Ini terbilang lucu jika melihat kasus ini. Kenapa diproses hukum, padahal tidak ada pihak yang dirugikan, petani tidak dirugikan justru hasil panen meningkat, negara tidak dirugikan karena petani sejahtera, jadi delik pidananya dimana. Seharusnya penegak hukum bisa lebih jeli melihat kasus ini," ungkapnya.

Kasus bibit IF 8 yang menyeret Keucik Munirwan ke jeruji besi membuat kalangan kalangan LSM di Aceh berang. WALHI Aceh mengecam dan meminta Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh dicopot dari jabatannya.

"WALHI Aceh meminta kepada Plt Gubernur Aceh untuk mencopot Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh karena dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pembina dan pengayom petani serta mematikan inovasi masyarakat dengan melaporkan Geuchik Tgk. Munirwan ke Polda Aceh," kata Direktur WALHI Aceh M. Nur di Banda Aceh, Kamis (23/7/2019).

Menurutnya, WALHI Aceh tidak bisa menerima prilaku seperti ini, karena peran dinas bukan memenjarakan rakyat, tapi membina rakyat untuk terus berinovasi sehingga terwujudnya Aceh Hebat sebagaimana visi Gubernur Aceh serta perwujudan Proyek Strategis Nasional pada bidang ketahanan pangan.

"Untuk itu, sudah saatnya Plt Gubernur Aceh mencopot Kadis Perkebunan dan Pertanian Aceh dan meminta mencabut laporan di Polda Aceh sebelum terjadi reaksi penolakan yang lebih besar dari rakyat Aceh," tegasnya.

Editor: Azhar

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Kepala Desa Di Aceh Ditangkap Polisi Akibat Ciptakan Padi Varietas Unggul"