banner 468x60

Tiga Orang Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Telah Ditetapkan Menjadi Tersangka

banner 160x600
banner 468x60

Kabar21News, -Tiga orang pembina jPramuka SMPN 1 Turi telah ditetapkan menjadi tersangka atas kasus tewasnya sepuluh siswi saat kegiatan Susur Sungai Sempor di Dukuh, Donokerto, Turi, Sleman.

 

Selain lalai, ketiganya disebut minim persiapan, Tiga tersangka yang telah diumumkan sebelumnya yakni IYA (36), warga Caturharjo, Sleman; R (58), warga Turi, Sleman; dan DDS (58), warga Ngaglik, Sleman. Ketiganya dihadirkan dalam sesi jumpa pers di Polres Sleman, Selasa (25/2/2020).

"Pada saat seluruh pembina ini, yang dimotori oleh ketiga yang kita tetapkan tersangka, itu sama sekali tidak ada kesiapan-kesiapannya. Karena 249 siswa yang hanya ikut, tunduk, taat kepada mereka, sementara gejala-gejala alam sudah bisa terbaca, saat itu mendung, sangat gelap hitam, dan saat mulai menyusuri, itu sudah mulai ada tanda-tanda hujan, gerimis," kata Wakapolres Sleman, Kompol Akbar Bantilan, Selasa.

Akbar menyebut, para pembina tidak bisa membaca gejala alam tersebut dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan susur sungai. Padahal, mereka yang sudah mengantongi sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka ini seharusnya mampu memahami manajemen risiko. R juga diketahui sebagai Ketua Gugus Depan Pramuka SMPN 1 Turi.

Akbar menambahkan, dalam pendampingan kegiatan susur sungai, hanya empat dari tujuh pembina yang ditugasi mengawasi kegiatan 249 siswa di lapangan. Selain itu, para peserta juga tidak dilengkapi alat pengamanan yang memadai.

"Tetapi, kesiapan-kesiapan itu yang tidak dipikirkan oleh mereka. Dan akhirnya berdampak kepada siswa-siswi, yang menyebabkan sepuluh meninggal dunia," lanjut Akbar.

Akbar kembali menjelaskan, bahwa ketiga pembina yang tidak berpartisipasi dalam kegiatan itu adalah para tersangka ini. Padahal, ide bentuk kegiatan dan pemilihan lokasi merupakan inisiatif mereka, terutama IYA.

 

"Tapi, yang bersangkutan (IYA) justru tidak ikut turun. Bahkan pergi karena ada urusan yang dia kerjakan. Yang bersangkutan ada keperluan mentransfer uang di bank. Sehingga, dia meninggalkan siswa-siswi ini jalan dan diampu oleh empat orang pembina," paparnya.

IYA, menurut Akbar, baru kembali pasca kejadian. Ikut melakukan langkah-langkah pertolongan, meski beberapa siswa dan rekan pembina terlanjur hanyut.

Ketiga tersangka kini terancam dijerat dengan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan nyawa melayang dan Pasal 360 KUHP perihal kelalaian yang mengakibatkan orang lain terluka. Ancaman hukumannya lima tahun penjara.

Pengakuan Tersangka

Sementara IYA, menyebut sesaat sebelum kegiatan susur sungai dilakukan, cuaca masih normal. Selain itu, menurutnya, ketika para siswa diberangkatkan yakni sekitar pukul 13.30 WIB, hujan belum turun.

"Kemudian saya cek sungai di atasnya, di jembatan itu airnya juga deras. Kemudian di tempat start, saya cek airnya juga nggak masalah," katanya.

"Di situ juga ada teman saya yang sudah terbiasa ngurusi Susur Sungai Sempor itu, sehingga saya juga yakin aja tidak akan terjadi apa-apa," ungkap IYA sambil terus memegangi tasbihnya.

Kegiatan susur sungai dipilih karena ingin mengenalkan alam kepada para siswa. Selain itu, para peserta diminta untuk menyusuri sungai di tepian, bukan di tengah sungai.

Sementara R mengaku tidak berada di lapangan mendampingi anak-anak karena menurut pembagian tugas, ia diposkan untuk piket jaga di sekolah. "Di samping itu setiap nanti anak-anak habis susur sungai itu harus ada pencatatan, waktu itu saya menunggui di sekolah," ujarnya.

"Di samping saya menunggui barang-barang anak-anak karena anak-anak itu kan paginya masih masuk, terus lanjutan dengan jamnya kegiatan kepramukaan," sambung R.

R melanjutkan, usianya yang nyaris memasuki masa pensiun itulah yang membuat dirinya lebih menempatkan diri di sekolah. "Saya juga nggak pernah meninggalkan, sebelum anak-anak pulang semuanya," tegasnya.

Sementara DDS yang merupakan pembina yang didatangkan dari luar sekolah, menurut Kasar Reskrim Polres Sleman, Rudy Prabowo, menanti para siswa di titik akhir susur sungai. "Dia menunggu di jembatan finish," bebernya.

Dengan segala pengakuan tersangka ini, polisi masih perlu mengupas peran masing-masing untuk kepastian pidananya. Penambahan tersangka, juga masih memungkinkan.

Adapun untuk barang bukti yang berhasil diamankan dalam kasus ini berjumlah 48 buah. Di antaranya, tiga unit handphone, satu bendel Program Harian Ekstra Pramuka SMP N 1 Turi, lima tongkat Pramuka, sejumlah seragam Pramuka, dan beberapa sepatu tanpa pasangan.

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Tiga Orang Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Telah Ditetapkan Menjadi Tersangka"