banner 468x60

Ketua Umum (APT2PHI) Terenyuh Dan Miris Terhadap Kondisi Petani Tembakau Jawa Tengah

banner 160x600
banner 468x60

KABAR21NEWS, Temanggung -Rahman Sabon Nama, Ketua Umum Asosiasi Pedagang & Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia (APT2PHI), terenyuh dan miris terhadap kondisi petani tembakau di Jawa Tengah belakangan ini.

Dihubungi Jumat (4/12) sore, Rahman mengatakan petani tembakau di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah sudah semakin tidak berdaya menghadapi gempuran tembakau impor asal Cina dan India belakangan ini memasuki pasar tembakau Jawa Tengah.

Sebagai akibatnya menurut Rahman, harga tembakau di pasar Jawa Tengah anjlok hingga Rp
50.000/Kg dimana harga ini dibawah biaya perkilogram produksi.

“Dampaknya lebih jauh, pabrik rokok pun enggan membeli tembakau dari petani lokal Jawa Tengah yang harganya kalah bersaing dengan harga tembakau impor,” kata Rahman.

Menurutnya, kebijakan Impor tembakau oleh pemerintah dari China dan India melebihi 80% dari kebutuhan nasional. Lagi pula impornya dilakukan ketika petani tembakau daerah itu sedang melakukan panen raya, tatkala harga tembakau anjlok.

Ihwal kondisi ketidak-berdayaan usaha petani tembakau di Jawa Tengah itu dikeluhkan pula oleh sejumlah tokoh masyarakat di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Kendal kepada Rahman saat kunjungannya dalam agenda Konsolidasi Kebangsaan APT2PHI pada 25-27 Desember 2018 lalu.

Agenda tersebut dilakukan di berbagai daerah di Indonesia untuk menyerap refleksi dan ekspresi masyarakat mengenai permasalahan hasil pembangunan nasional dewasa ini pada kerangka proyeksi Pilpres 2019.

Saat konsolidasi di tiga kabupaten Jawa Tengah, Rahman bertemu dengan para tokoh petani tembakau yang mewakili jutaan petani tembakau di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, wilayah Kabupaten Temanggung, Wonosobo dan Kabupaten Kendal.

Di tiga kabupaten itu, Alumnus Lemhanas RI ini menggelar pula pertemuan dengan pelbagai elemen tokoh masyarakat, ulama, pemerintah daerah, pun DPRD setempat.

“Tujuannya adalah untuk mendapatkan pelbagai masukan dan mendengarkan suara rakyat merespon dan mengapresiasi kinerja pemerintah saat in di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi,” kata Rahman.

Menurutnya, pertemuan tersebut sengaja dilakukan pula dengan jajaran Muspida, terutama dengan Bupati Temanggung Muhamad Al Khaziq, yang wilayah pemerintahannya merupakan sentra pertanian tanaman tembakau.

“Bupati Temanggung, sama juga dengan dua bupati lainnya (Kendal dan Wonosobo) berharap agar kebijakan impor tembakau dievaluasi dengan kebijakan yang berpihak kepada petani tembakau dalam negeri,” kata Rahman.

Selain dengan Bupati, Rahman juga bertemu dengan anggota DPRD dari fraksi partai oposisi.

“Ya, ini perlu, agar kami bisa mendapatkan informasi berimbang terkait penilaian pembangunan bangsa di era pemerintahan Jokowi-JK. Baik itu penilaian yang konstruktif maupun destruktif sebagai bahan masukan yang obyektif kepada Kepala Negara/Pemerintahan presiden Joko Widodo,” kata Rahman.

“Dalam serangkaian pertemuan itulah banyak sekali masukan, dan lebih dominan dengan keluhan maupun harapan masyarakat petani tembakau kepada pemerintah pusat,” imbuhnya.

Sempat juga, Rahman yang juga Ketua Umum Persatuan Pengamal Tarekat Indonesia (PPTI) ini melakukan pertemuan dengan kiayi sepuh Ngabei Abu Mansyur yang masih keturunan dari Prabu Angling Darma.

Dalam pertemuan kiayi sepuh itu, kata Rahman, “beliau (kiayi) sampaikan, agar partai koalisi pendukung pemerintah dalam memberikan pernyataan tidak terkesan anti atau pobia terhadap Islam. Karena menurutnya, akan membuat luka dan menyayat hati umat Islam dan para ulama yang berperan sentral dalam memperjuangkan Kemerdekaan RI.”

Ditanya, apakah keluhan petani tembakau itu akan disampaikan kepada pemerintah pusat? “Tentu,” sahut Rahman.

“Solusinya sudah kami sampaikan kepada Presiden (Jokowi), supaya bisa menggunakan kewenangannya memerintahkan pemilik pabrik rokok Gudang Garam, Jarum dan Sampoerna agar dapat membeli tembakau petani asal Temanggung dan Wonosobo.”

Rahman berargu bahwa komoditi tembakau merupakan komoditi utama andalan rakyat di tiga kabupaten itu, yang 70% adalah petani tembakau dan sebagai salah satu komoditi penyumbang PAD terbesar dalam mendukung pembangunan di kabupaten itu.

Dari perspektif politik, katanya, suara jutaan petani tembakau di tiga kabupaten tersebut menjadi sensual dan seksi dalam Pilpres 2019. Oleh karenanya kandidat capres perlu mendatangi daerah ini.

Oleh karena itu menurut Rahman, Pilpres 2019 menjadi strategis bagi kepentingan calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, apabila sanggup punya komitmen politik melindungi jutaan petani tembakau.

Terkait dengan perlindungan petani tembakau dalam negeri, Rahman mengatakan, agar tidak terjadi pemiskinan pada petani, maka komitmen kebangsaan yang ditawarkan APT2PHI kepada calon presiden 2019 adalah:

(1). Perlu ada regulasi untuk melindungi petani tembakau dari keterpurukan harga dengan penetapan HPP (Harga Patokan Pemerintah) atau Harga Dasar yang ditetapkan oleh pemerintah.

(2). Pabrik rokok diwajibkan membeli tembakau hasil produksi dalam negeri, impor dibatasi dengan peraturan yang ketat dan hanya bisa dilakukan apabila mendesak hanya untuk memenuhi kekurangan produksi.

(3). Untuk menjaga kualitas tembakau daerah ini, maka perlu ada Perda pelarangan masuknya tembakau dari daerah lain ke kabupaten ini, agar tidak menjadikan tembakau kualitas rendah daerah lain menjadi Trade Mark tembakau asal Temanggung dan Wonosobo.

Mengakhiri keterangannya orang nomor satu APT2PHI ini mengatakan, siapa yang betul-betul peka dan sanggup mendengar jeritan jutaan suara petani tembakau, dan bila hal di atas secara serius menjadi agenda utama komitnen politik calon presiden pada rakyat daerah ini bisa dilakukan, maka dialah yang menjadi pilihan jutaan suara rakyat petani tembakau di Jawa Tengah.

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Ketua Umum (APT2PHI) Terenyuh Dan Miris Terhadap Kondisi Petani Tembakau Jawa Tengah"