banner 468x60

Tidak Sadar Banyak Masyarakat Indonesia Mengkonsusmsi Gula Berlebihan.

banner 160x600
banner 468x60

KABAR21NEWS,SURABAYA,- Siapa yang tak suka manisnya gula? Gula memang mempunyai rasa manis yang membuat makanan dan minuman jadi semakin lezat dan nikmat. Namun Anda harus ingat, mengonsumsi gula berlebih bisa berisiko terhadap kesehatan Anda, loh! Meski begitu, bukan berarti Anda dilarang mengonsumsi gula, hanya saja Anda perlu membatasi asupan gula per hari.

WHO menganjurkan asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman tidak lebih dari 50 gram per hari untuk dewasa dan 30 gram untuk anak-anak. Takaran 50 gram setara dengan tiga sendok makan. Konsumsi gula berlebih ini salah satunya disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat akan kehadiran gula tersembunyi.

Melihat kondisi ini, Pepsodent, salah satu brand PT Unilever Indonesiabekerja sama dengan Pesatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (Afdokgi) mengadakan program Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018. Kegiatan ini dihelat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Nala Husada Universitas Hang Tuah, Surabaya, mulai 1-3 November 2018.

Dari sinilah pentingnya untuk mewaspadai gula tersembungi yang banyak dikonsumsi sehari-hari. Apalagi banyak kuliner khas Surabaya meski tak bercita rasa manis namun memiiki kandungan gula tersembunyi. Terutama makanan yang mengandung petis yang menjadi salah satu bumbu lokal yang digunakan. Seperti rujak cingur, lontong balap, kupang, tahu campur, tahu tek, pecel, semanggi, dan sebagainya.

Ternyata, dari 100 gram petis mengandung gula tersembunyi sebanyak 1,23 gram. Apabila tak diimbangi dengan pengetahuan perawatan kesehatan gigi yang benar, akan berisiko menimbulkan masalah karies atau gigi berlubang.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya sehat fisiknya saja, tapi juga sehat giginya. Kalau mulut atau gigi tidak sehat, anggota tubuh lainnya tak nyaman,” ungkap Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hang Tuah drg Lita Agustia M.H.Kes, Kamis (1/11)

Menurutnya, masalah gigi berlubang atau karies sering kali digambarkan sebagai empat mata rantai yang saling berinteraksi, yaitu host yang terdiri dari gigi dan air liur, mikroorganisme atau bakteri pada plak, substrat atau asupan makanan, dan waktu.

Sementara, Division Head for Health & Wellbeing and ProfessionalInstitutions Yayasan Unilever Indonesia, drg Ratu Mirah Afifah GCClinDent, mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun kesembilan pelaksanaan BKGN di Kota Surabaya.

“Kami mendapat respon positif dari masyarakat setempat. Artinya masyarakat Surabaya memiliki kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut mereka,” ungkapnya. Tahun ini ditargetkan memberikan edukasidan pelayanan kesehatan gigi kepada 1.000 orang masyarakat Surabaya dan sekitarnya, Dikutip dari Bangsaonline.com.

Editor: Nanang 

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Tidak Sadar Banyak Masyarakat Indonesia Mengkonsusmsi Gula Berlebihan."