banner 468x60

Pertaubatan Masal Aliran Islam Sejati Kebumen

banner 160x600
banner 468x60

KABAR21NEWS,  kebumen -Pasca-pertaubatan para pengikut ajaran Islam Sejati, pemerintah tak lantas lepas tangan.

Para eks pengikut ajaran sesat ini tentunya masih perlu penanganan lanjutan.

Kementerian Agama akhirnya menunjuk beberapa penyuluh agama untuk aktif mendampingi atau membimbing eks pengikut aliran Islam Sejati Kebumen.

Langkah ini dilakukan untuk menguatkan pemahaman mereka tentang ajaran agama yang benar.

Dengan demikian, mereka tidak akan mudah untuk kembali terjerumus dalam ajaran sesat dan menyesatkan.

"Kemenag tunjuk beberapa penyuluh aktif untuk mengajarkan ke kelompok mereka," kata Ketua MUI Kebumen Kyai Haji Nur Sodiq.

Nur Sodiq mengatakan, tidak semua pengikut aliran Islam Sejati datang ke Masjid Mapolres Kebumen untuk melaksanakan ritual pertaubatan bersama.

Dari informasi yang dia terima, jumlah pengikut ajaran ini lebih dari 15 orang.

Mereka yang tidak sempat mengikuti kegiatan sakral itu kemudian diminta untuk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) setempat di lain waktu.

Di tempat itu, para pengikut ajaran sesat ini dibimbing melakukan pertaubatan atas perbuatan mereka yang melenceng dari ajaran Islam.

"Yang belum datang, suruh datang ke KUA untuk taubat di KUA, dan buat piagam masuk Islam."

Sodiq juga memberikan arahan khusus kepada eks pemimpin aliran Islam Sejati, Hadi.

Setelah bertaubat, Sodik menyarankan orang tua itu agar mau mempelajari Islam kepada ahli agama Islam yang terpercaya.

Sebelumnya, Sodiq mengaku telah membaca buku ajaran Sejati yang disusun oleh Hadi.

Dia sempat membaca buku berbahasa Jawa dengan huruf latin dan Jawa itu sekitar setengah jam karena diminta untuk memberikan tanggapan oleh Kementerian Agama.

Meski belum sampai tuntas membaca, ia menyimpulkan muatan buku itu menyimpang dari ajaran agama Islam.

Di antara penyimpangan yang ia ketahui dari ajaran itu adalah adanya penambahan kata "nuuro" sebelum kata Muhammad dalam kalimat syahadat kedua.

Ia juga tak menemukan istilah puasa Ramadan dalam buku itu, melainkan puasa dari Magrib hingga Magrib.

Ajaran itu juga mengenal istilah puasa khos, yakni puasa selama tiga hari tiga malam. Ada lagi puasa khosul khos yang berarti puasa lebih dari tiga hari.

Keanehan lain ajaran itu, menurut dia, adalah sewaktu sujud salat diperintahkan menambahkan bacaan tertentu di luar kaidah.

"Di dalam sujudnya, disuruh baca doa para Jawa,"katanya

Kekeliruan lain yang dia temukan dalam ajaran itu adalah pemaknaan tentang Ahlussunah Wal Jamaah yang diartikan gotong royong.

Sedangkan Ahlussunah Wal Jamaah, sebagaimana diketahui umum, adalah satu kelompok (firqoh) dalam Islam yang dianut oleh mayoritas umat muslim di dunia, termasuk di Indonesia.

Munculnya kasus ajaran menyimpang di masyarakat bukan kali ini saja terjadi. Karena itu, MUI mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam agar mewaspadai penyebaran paham atau aliran menyimpang.

Masyarakat dapat mengenali ajaran menyimpang melalui setidaknya 10 tanda seperti disebut MUI.

Di antara tanda ajaran menyimpang itu, adanya tambahan atau pengurangan rukun Iman maupun Islam. Atau mengingkari salah satu rukun iman dan Islam. Kemudian mengingkari Al Quran dan Hadits sebagai landasan hukum.

Ajaran menyimpang juga biasa dilakukan dengan mengubah tata cara ibadah seperti dilakukan umat Islam pada umumnya.

Bentuk penyimpangan lain adalah mengkafirkan kelompok lain di luar kelompoknya. Serta meyakini ada nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW.Jika masyarakat menjumpai ajaran dengan tanda-tanda seperti itu, patutnya dihindari.

Editor: Alfandy

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Pertaubatan Masal Aliran Islam Sejati Kebumen"