banner 468x60

IndonesiaPemegang Saham Mayoritas, Tetapi Masih Memerlukan Freeport Untuk Mengerjakan Proyek Besar

banner 160x600
banner 468x60

KABAR21NEWS, Jakarta -Peneliti Pertambangan dari lembaga Alpha Research Database, Ferdy Hasiman menilai Freeport McMoran adalah korporasi berpengalaman yang bisa dan jago mengoperasikan tambang underground.

Oleh sebab itu, Ferdy setuju dengan langkah pemerintah Joko Widodo - Jusuf Kalla yang memperpanjang kontrak karya (KK) Freeport.

Menurut dia, bangsa Indonesia boleh menjadi pemegang saham mayoritas, tetapi kita masih memerlukan Freeport untuk mengerjakan proyek besar yang bisa mendatangkan keuntungan besar bagi negara dan Papua.

"Maka, kita berhenti menjadikan Freeport sebagai musuh (enemy), karena Kontrak Karya (KK) telah berakhir. Sekarang Freeport sudah berubah menjadi IUPK, di mana negara berdaulat, pemda masuk dalam pemegang saham dan Inalum juga. Maka, kita anggap Freeport sebagai sahabat dan mitra kita ke depan. Mitra yang bisa membangun bangsa untuk menambah penerimaan daerah, negara, lapangan kerja," kata dia dalam keteranannya, Minggu (30/12/2018).

Indonesia, menurut Ferdy, masih membutuhkan Freeport McMoran untuk pengelolahan tambang Grasberg yang membutuhkan teknologi dan infrastruktur canggih. Indonesia, tutur dia, perlu belajar teknologi dari Freeport, belajar banyak bagaimana mengolah tambang sekelas Grasberg.

"Perpanjangan Freeport sampai tahun 2041, lumrah dalam keputusan bisnis, karena ada perjanjian yang saling menguntungkan kedua belah pihak di sana. Tetapi menjadi tidak lazim karena orang melihat kebijakan ini dari sudut pandang politik," ucap dia.

Dia berharap Inalum dan Freeport bisa bersama-sama membangun proyek ambisius, proyek tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, Grasbreg Open-pit, DOZ Block Cave, Big Gosan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave.

Sampai tahun 2017, lanjut Fredy, cadangan terbukti dan terkira di Grasberg sebesar 38,8 miliar pound tembaga, 33,9 juta ons emas, dan 153,1 juta ons perak. Pembangunan tambang underground yang dilengkapi terowongan, kereta api bawah tanah dan tunnel (jalan bawah tanah) sepanjang 1000 KM, sangatlah mahal.

"Tahun 2019, tambang open-pit Grasberg memang mencapai titik puncak. Dalam perkiraan Freeport Indonesia, produksi Freeport pun ikut menurun. Inalum bisa hanya mendapat dividen di kisaran angka 390 juta dolar, tetapi itu 10 kali lipat dari diiven sebelumnya karena hanya mengontrol 9 persen saham Freeport," jelas dia.

Lebih lanjut Fredy menambahkan, yang perlu dicatat adalah tambang open-pit hanya tujuh persen dari total cadangan Freeport. Cadangan terbesar sebesar 93 persen tambang Grasberg ada ditambang underground. Mulai tahun 2021, Freeport akan menikmati produksi dari tambang underground yang dalam perkiraan mencapai 160.000-200.000 ton konsentrat tembaga.

"Jika harga metal di pasar global naik, tentu itu akan menguntungkan Freeport dan Inalum sebagai pemegang saham. Inalum ke depan bisa menikmati dividen seniai Rp 1,3 miliar dollar dari tambang Grasberg. Ini sesuatu yang sangat besar untuk bangsa dan negara. Jadi kalau tidak diperpanjang kontraknya sampai 2041, Freeport tentu tak ingin berinvestasi di Grasberg dan tak ada guannya Inalum membeli saham Freeport Indonesia," pungkasnya.

Editor: Teguh

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "IndonesiaPemegang Saham Mayoritas, Tetapi Masih Memerlukan Freeport Untuk Mengerjakan Proyek Besar"