banner 468x60

Kemitraan Internasional Dukung Pendanaan Bencana di IMF-WBG 2018

banner 160x600
banner 468x60

NUSA DUA - Bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat serta gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, memberi duka bagi kita semua di Indonesia. Beberapa negara lain pun berempati atas bencana ini.

Pun di negara-negara lain di dunia juga terjadi bencana. Kerugian yang diderita atas musibah bencana tidak sedikit. Dan kemampuan pemerintahan masing-masing negara yang terkena bencana dalam menanggulangi tidak sama.

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam seminar yang bertema 'Disaster Risk Finance and Insurance' di Bali International Convention Center (BICC), mengajak para peserta yang hadir dari berbagai negara untuk saling berbagi dan menemukan solusi yang tepat, khususnya dalam hal pembiayaan dan asuransi risiko bencana.

Melihat kondisi ini, salah satu lembaga kemitraan internasional untuk solusi pendanaan bencana yakni InsuResillience Global Partnership menggelontorkan anggaran USD675 juta untuk 73 negara yang mengalami bencana. Jumlah ini akan bertambah, misalnya pemerintah Jerman akan membuat komitmen sebesar USD90 juta, jumlah ini juga akan disamai oleh beberapa negara lain.

"Jumlah finalnya akan diumumkan 2 hari lagi pada pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Bali," kata anggota InsuResillience Global Partnership Sönke Kreft di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

Sönke yang juga Executive Director of Munich Climate Insurance Initiative mengatakan, fasilitas pendanaan yang pernah digelontorkan anggota Kemitraan ini antara lain pada 2014, African Risk Capacity (ARC) telah membayarkan lebih dari USD34 juta ke 4 negara yang terdampak kekeringan: Mauritania, Niger, Senegal dan Malawi.

Tahun 2018, Tonga menerima pembayaran dana USD3,5 juta setelah terdampak siklon "Gita" dari Pacific Catastrophe Risk Assessment and Financing Initiative (PCRAFI).

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Kemitraan Internasional Dukung Pendanaan Bencana di IMF-WBG 2018"